Ingris-Ingrissan

September 9th, 2006

Ingris-Ingrissan

 

Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil
bertepuk tangan, ia berteriak, "Not a play! Not a play!"

Nadine bengong. "Not a play?"

 

"Yes. Not a play. Bukan main."

Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah.

"Bukan main itu bukan not a play, Djan." "Your
granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.(Orang saya sudah
periksa di kamus kok)"

 

Lalu berpaling ke Nadine. "Lady, let’s corner (Mojokyuk).

 

But don’t think that are nots (Jangan berpikir yang
bukan-bukan). I just want a meal together."

"Ngaco kamu, Djan," Tukidjo tambah gemes.

"Don’t be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a
little is OK toch.?" Nadine cuman senyum kecil. "I would love to, but
…"

"Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau
teman saya bikin kamu jadi nggak enak)" sambut Wakidjan ramah.

 

"Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not
be various kok (Saya nggak akan macam-macam kok)."

 

Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal.
"Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor (Emang
itu bahasa punya moyang lu)?"

 

Tukidjo cari kalimat penutup

"Just itchy Djan, because
you speak English as delicious as your belly button." (Gatel aja, Djan,
soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).

Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, "His name is also
effort." (Namanya juga usaha)

lagi-lagi didapat dari rileks.comlabs

Menanti

September 4th, 2006

MENANTI

Malam beribu
malam

Sendiri menatap
bintang

Kunanti sang
rembulan di padang kalbuku

Namun mengapa
sang mega selalu membayangiku

Gelap terasa
tanpa citranya

Dan meteorpun
terus menghujaniku tanpa perasaan

Buat aku jatuh
kesunyian tanpa pertolongan di bahuku

Tolong! Tolong
aku!

Selalu
terbayang wajahnya nan manis

Beratus-ratus
kali muncul dalam mimpiku

Tiada satupun
yang dapat menggantikan agar aku

Dapat melihat
wajahmu

Kutebus dengan
apapun asal aku

Dapat melihat
wajahmu

Dan menantimu
mengangguk

Dan akupun
lebih ingin melihat wajahmu

Daripada
inginku ‘tuk melihat MU vs Real Madrid

Tuhanku!

Berilah
secercah cahaya-Mu

Agar aku dapat
melihat jalanku yang

terus berliku

(kutujukan bagi teman-temanku yang
sedang menanti)

Belajar Bahasa Indonesia

September 3rd, 2006

Belajar  Bahasa Indonesia

Kelas yang tadi ribut-ribut tanpa guru, kini menjadi sunyi. Guru Bahasa Indonesia yang paling ditakuti dan disegani oleh semua murid telah masuk ke dalam kelas. Wajahnya garang seperti harimau kelaparan.

Murid-murid : "Selamat pagi, Bu Guru!"

Bu Guru (dengan suara melengking) : "Mengapa bilang selamat pagi saja? Kalau begitu siang, sore dan malam kalian mendoakan saya tidak selamat ya?"

Murid-murid : "Selamat pagi, siang dan sore Bu guru…"

Bu guru : "Kenapa panjang sekali? Tidak pernah orang mengucapkan selamat seperti itu! Katakan saja selamat sejahtera, bukankah lebih bagus didengar dan penuh makna? Lagipula ucapan ini meliputi semua masa dan keadaan."

Murid-murid : "Selamat sejahtera Bu Guru!"

Bu guru : "Sama-sama, duduk! Dengar sini baik-baik. Hari ini Bu Guru mau menguji kalian semua tentang perlawanan kata atau antonim kata. Kalau Bu Guru sebutkan perkataannya, kamu semua harus cepat menjawabnya dengan lawan katanya, mengerti?"

Murid-murid : "Mengerti Bu Guru…"

Guru : "Pandai!"

Murid-murid : "Bodoh!"

 

Guru : "Tinggi!"

Murid-murid : "Rendah!"

 

Guru : "Jauh!"

Murid-murid : "Dekat!"

 

Guru : "Berjaya!"

Murid-murid : "Menang!"

 

Guru : "Salah itu!"

Murid-murid : "Betul ini!"

 

Guru (geram) : "Bodoh!"

Murid-murid : "Pandai!"

 

Guru : "Bukan!"

Murid-murid : "Ya!"

 

Guru (mulai pusing) : "Oh Tuhan!"

Murid-murid : "Ya Hamba!"

 

Guru : "Dengar ini… "

Murid-murid : "Bicara itu…"

 

Guru : "Diam !!!"

Murid-murid : "Ribut !!!"

 

Guru : "Itu bukan pertanyaan, bodoh !!!"

Murid-murid : "Ini adalah jawaban, pandai!!!"

 

Guru : "Mati aku!"

Murid-murid : "Hidup kami!"

 

Guru : "Saya rotan baru tau rasa!!"

Murid-murid : "Kita akar lama tak tau rasa!!"

 

Guru : "Malas aku ngajar kalian!"

Murid-murid : "Rajin kami belajar bu guru…"

 

Guru: "Kalian gila semua!!!"

Murid-murid : "Kami waras sebagian!!!"

 

Guru : "Cukup! Cukup!"

Murid-murid : "Kurang! Kurang!"

 

Guru : "Sudah! Sudah!"

Murid-murid : "Belum! Belum!"

 

Guru : "Mengapa kamu semua bodoh sekali?"

Murid-murid : "Sebab saya seorang pandai!"

 

Guru : "Oh! Melawan, ya??!!"

Murid-murid : "Oh! Mengalah, tidak??!!"

 

Guru : "Kurang ajar!"

Murid-murid : "Cukup ajar!"

 

Guru : "Habis aku!"

Murid-murid : "Kekal kamu!"

 

Guru (putus asa) : "O.K. Pelajaran sudah habis!"

Murid-murid : "K.O. Pelajaran belum mulai!"

 

Guru : "Sudah, bodoh!"

Murid-murid : "Belum, pandai!"

 

Guru : "Berdiri!"

Murid-murid : "Duduk!"

 

Guru : "Bego kalian ini!"

Murid-murid : "Cerdik kami itu!"

 

Guru : "Rusak!"

Murid-murid : "Baik!"

 

Guru (stres) : "Kamu semua ditahan siang hari ini!!!"

Murid-murid : "Dilepaskan tengah malam itu!!!"

 

Bu Guru : "???&^&*(#%!!!"

 

juga diambil dari rileks, forum terhebat

Guruku…..

September 3rd, 2006

Guruku  Sayang, Guruku Malang…..

Guru memang menjadi faktor terpenting dalam berhasilnya suatu pendidikan. Tanpa guru tidak mungkin proses belajar mengajar akan dapat berjalan lancar. Tetapi pada saat sekarang ini banyak sekali guru yang menyelewengkan kewajibannya sebagai fasilisator pendidikan. Terutama banyak sekali terjadi pada guru-guru yang mengajar di SMU atau yang sederajad. Kekurangprofesionalan mereka akan membuat generasi-generasi yang akan datang menjadi bodoh dan picik. Mungkin beliau-beliau ini nggak sadar kalau tanggung jawab mereka sebagai guru amat sangat besar.
Sedikit contoh penyelewengan dan kekurangprofesionalan guru antara lain:

* Rata-rata banyak guru yang malas mengajar. Mereka sering meng’korupsi’ jam mengajar. Sering terlambat masuk kelas atau belum ada bel ganti pelajaran udah ngacir. Dan yang lebih parah lagi tidak masuk kelas sama sekali dan membiarkan kelas kosong tanpa suatu alasan yang jelas dan seenaknya saja memberikan tugas kepada murid-muridnya lalu disuruh untuk dikumpulkan.

* Cara mengajar guru yang tidak kompeten dan membosankan. Menyuruh sekretaris kelas untuk mencatat di papan tulis untuk disalin teman-temannya. Padahal dengan metode kuno tersebut sangat tidak efektif dan efisien. Ada juga yang menerangkan pelajaran dengan seenaknya saja (misalnya dengan suara kecil) dan tidak peduli apakah anak didiknya itu jelas apa yang diajarkannya. Lalu menyuruh murid-muridnya untuk mengerjakan LKS dan dikumpulkan (padahal si guru tahu kalau murid-muridnya itu kalau mengerjakan LKS ‘tirun-tinurun’ alias yang satu mengerjakan yang lainnya jadi mesin fotocopy).

* Ada guru yang menyelenggarakan les privat dirumahnya sehingga murid-muridnya pada ikut les, karena kalau ikut les di guru tersebut akan menjadi murid istimewa. Diajarkan lebih jelas dan komplit dibanding yang di sekolah, dibocorkan soal-soal ulangan dan nilai rapor akan ditolong si guru bila nilai si murid jatuh. Hal tersebut dilakukan agar semakin banayk murid yang ikut les di guru tersebut, sehingga semakin banyak pula amplop yang akan masuk dikantong perbulannya.
Yang lebih parah dan memalukan lagi adalah guru yang mencari keuntungan dibalik profesinya itu.

* Sebagian guru ada yang menjual buku pelajaran suatu penerbit tertentu dengan tidak memperhatikan kualitas buku tersebut tetapi karana profit oriented yang memang selalu menggiurkan bila buku itu terjual banyak. Kemudian si guru mencari akal agar buku tersebut laris terjual dan bila perlu pada tahun pelajaran depan buku tersebut tidak bisa digunakan lagi oleh siswa baru. Caranya? Siswa disuruh mengerjakan tugas di buku itu dengan pulpen (tinta), kemudian guru memberi nilai dan membubuhi paraf dengan pulpen pula. Atau juga mewajibkan murid-muridnya untuk membeli LKS, walaupun pada akhirnya LKS itu nggak pernah digunakan/dikerjakan/dievaluasi. Mungkin karena keputusan dan perintah dari MGMP yang ingin mencari dana dengan menjual LKS agar dapat menyelenggarakan rapat-rapatnya.

* Yang paling Ruarrr Biasa adalah ada beberapa oknum guru (jumlahnya sangat kecil) minta di’amplopi’. Si oknum tersebut mematok tarif, misalnya nilai 8 harus bayar berapa, nilai 9 bayar berapa…
Yang lucu juga ada beberapa guru yang HP-nya aktif hingga berbunyi saat si guru sedang menerangkan. Bahkan ada yang menjawab telepon tersebut di depan murid-muridnya hingga mengganggu proses KBM.

Sebetulnya masih banyak lagi penyelewengan yang lain. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Itulah PR bagi Mendiknas dan bawahannya. Tapi kalau boleh usul ada beberapa cara misalnya: menaikkan gaji guru beberapa kali lipat hingga si guru nggak mencari jalan yang salah. Selain itu juga akan menjadikan profesi guru terhormat dan lebih dihargai dan persaingan untuk menjadi guru lebih ketat sehingga tak sembarang orang bisa menjadi guru. Atau selalu melakukan penataran-penataran bagi guru-guru yang dipandang kurang profesional. Juga perlu diambil tindakan tegas dengan memberhentikan si guru bila memang benar-benar melanggar ketentuan-ketentuan. Tolong bagi yang bersangkutan yang kebetulan membaca coretan ini harap memperhatikan masa depan anak-anakmu dan masa depan Indonesia.

 

Tulisan ini dibuat penulis saat masih
duduk di bangku sma, masih muda dan g tau apa-apa, mohon dimaafkan.

    pesan singkat
    panganpuranipun, lagi menyesuaikan dengan transformasi ke WP, jadi kaco semua tulisan, semoga bisa berbenah sehingga enak dibaca
    Kutipan
    Sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak semua bangsa. (Pembukaan UUD 1945)
    Blogroll
    Tags