21
Aku telah berumur 21 tahun, batas umur dewasa seseorang. Umur yang menyatakan kalau dia itu sudah dewasa, sudah dapat menentukan pilihan jalan hidupnya. Ulang tahunku kemarin adalah ulang tahun pertama tidak bersama keluarga. Jadi sepi (emangnya pernah rame?). Apa yang telah aku dapat selama 21 tahun ini? Aku teringat tulisanku setahun lalu pas aku ulang tahun ke-20. Yaitu pertanyaan-pertanyaan:
“Berapa banyak pahala dan dosa yang telah aku lakukan? Ilmu apa yang udah aku kuasai? Ilmu apa yang udah
aku terapkan dan berguna bagi orang lain?”
Saat ini, apa perbedaan aku dan aku satu tahun yang lalu. Apa yang telah berubah dalam waktu satu tahun
ini? Setelah berpikir sejenak aku pun berkesimpulan, tidak ada yang mencolok yang
berubah. Semuanya tiada tercatat. Ya, sih beberapa prestasi dapat aku raih, tapi aku merasa belum maksimal, belum puas. STD alias standard dan biasa. Tidak istimewa.
Nah, bagaimana caranya agar satu tahun kedepan, untuk ulang tahunku yang ke-22, Insya Allah, aku dapat minimal puas, banyak yang telah aku dapat. Lagi-lagi malaslah penyakit utamanya. Dan menurutku untuk menghabisi rasa malas itu aku harus punya motivasi besar. Motivasi apa yang membuatku akan berbuat luar biasa??? Ada
beberapa sih motivasi yang dapat aku peroleh, tapi menurutku motivasi itu tidak akan muncul atau susah muncul dalam dunia nyata. Aku harus bisa me-manage motivasi diriku sendiri. Tapi terus terang itu susah. Kalau sekedar motivasi-motivasi biasa, tentu hal yang aku perbuat adalah hal yang biasa, bukan luar biasa.
“Kita bisa melakukan apa saja kalau pikiran kita menghendakinya” Arthur Schoppenhaur
“Kamu bisa kalau mau” Khrisnamurti
Yah, aku juga yakin kalau aku mau aku pasti bisa. Kalau aku yakin aku pasti bisa. Terus apa masalahnya?
“Pelajarilah semua ilmu,buka mata dan telinga lebar2. Semua ilmu adalah baik,tinggal bagian mana yg akan kita sarikan” Tung Desem Waringin
Mungkin untuk sekarang aku tetap pada tujuan utamaku, yaitu meraih ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya.
Aku belum sampai pada filosofi bahwa bagaimana memanfaatkan ilmu itu agar berguna bagi orang lain dan lingkungan. Aku tutup dengan tiga pertanyaan filosofis:
Apa yang aku ketahui?
Apa yang dapat aku harapkan?
Apa yang harus aku lakukan?
Penghindaran
penghindaran ini
segala penipuan terhadapmu ini
apakah benar
tatapan elang yang tiada terlupakan itu
beserta barisan bait yang selalu kau katakan
apakah hanya sebuah angin bagiku
apakah aku salah
dan mengelabui semuanya
atau hanya ibaku saja kepadamu
yang baru ini aku rasakan
yang dulu aku tolak semuanya
tanpa terima kasih bagai karang
sesal
tapi apakah benar yang kurasakan
ini sesal namanya
atau kasihan
atau bahkan cinta
kenapa rasa-rasa itu
begitu tipis
begitu terkait satu sama yang lain
benarkah ini semuanya
hanya waktu yang bisa menjawab
dan hanya kamu yang bisa menentukan
aku menunggumu
dan menunggu yakinku
Hampa (Part 6)
Cintaku…
Setiap bangun aku melihatmu
mengalun dikhalayanku sendiri
Tersenyum…
apa engkau tiada pernah merasa
kubegitu gundah merindukanmu
Sudah dua belas lebih purnama meninggalkanku
sendirian berlarian
Mengapa hidupku yang tiada pernah aku mengerti ini
yang pertanyaannya selalu membayangiku
selalu kosong tanpa jawaban
lagi-lagi penuh merasuki diriku
Di tempat ini yang tiada tahu bisa disini
hanya aku dan rembulan
menunggu datangnya ilham
yang belum pernah terbit
Hanya kebimbangan
yang akan terus berjalan
habis menggerogoti waktuku
Wahai malam-malamku
dan awan-awan hitam yang terus menutupiku
padam di kedalaman hatiku
yang selalu bertanya tanpa berharap
cinta tiada bicara
Hidup
Apa tujuan hidup ini?
Mungkin aku jarang berfilsafat dan gak suka berfilsafat. Tapi katanya, ibu dari segala ilmu itu ada di filsafat. Umurku saat ini sudah 21 tahun. Sudah cukup dewasa memang. Dan sampai umur segini aku mempunyai kesimpulan mengenai hidup dan tujuannya.
Ya, menurutku tujuan manusia hidup jika dilihat dari sudut pandang manusia sendiri (terutama aku) adalah untuk mencapai kebahagiaan. Semua yang dilakukan manusia itu pada akhirnya untuk memperoleh kebahagiaan bagi dirinya. Bagaimana manusia itu bekerja, belajar-menuntut ilmu, beribadah, ber-muamalah, bercinta, berpolitik, meng-hacking, menjadi maling, pecandu narkoba, itu semua (menurutku, red) demi untuk meraih kebahagiaan. Baik itu kebahagiaan yang berjangka pendek atau jangka panjang. Atau malah kebahagiaan semu yang dapat menjeremuskannya. Tapi kalo dilihat dari sudut pandang agamaku, kita hidup ini tiada lain untuk beribadah kepada-Nya. Dan arti dari ibadah itu sendiri sangat luas dan kadang aku kurang dapat mencapainya. Terus terang aku kurang mengerti.
Mengapa aku sekarang sok berfikir mengenai hidup ini. Sekarang memang aku lagi banyak masalah. Masalah yang harus aku hadapi. Masalah yang aku yakin akan membuatku menjadi lebih dewasa. Tapi kenapa kadang aku sering menghindar dari masalah-masalah ini ya. Aku tahu untuk men-solve semuanya harus aku awali dengan memetakan semua masalah dan prioritas dalam hidupku ini. Aku teringat akan cerita ember, batu besar, kerikil, pasir dan air. Aku harus dapat menentukan dan memilih prioritas-prioritas penting dalam hidupku. Kalo dalam membuat makalah atau tugas, yang pertama harus diperhatikan adalah membuat tujuan. Dari isu atau
permasalahan atau topik. Baru kemudian di tujuan tersebut dijabarkan dalam beberapa sasaran-sasaran. Dan sekarang aku belum mem-fixed-kan tujuan beserta sasaran-sasaran dalam hidupku. Baru kemudian dengan metode apa kita memperoleh tujuan dan sasaran tersebut. Kemarin aku juga mempelajari bagaimana menentukan kriteria-kriteria untuk mengevaluasi suatu kebijakan. Dan itupun seharusnya kutentukan setelah merumuskan tujuan dan sasaran hidupku. Aku harusnya sekarang sudah menyusun kriteria-kriteria apa yang bisa menjelaskan bahwa aku sukses dalam hidup ini.
Malas!!! Itu penyakit luar biasa yang menggerogotiku selama ini. Aku lagi-lagi teringat perkataan salah satu temenku yang bilang bahwa kerjakan yang terbaik pada hari ini. Memang kita jangan terlalu memikirkan esok dulu, hingga akhirnya menunda-nunda pekerjaan. Kalo bisa dilaksanakan hari ini, kenapa harus menunggu besok. Ketika udah di ujung mulut kenapa nggak langsung dinyatakan. Tapi mengapa aku selalu menunda-nunda pekerjaan, atau hal-hal yang ingin aku lakukan??? Mengapa coba??
AKOE | Comment (0)