Penghindaran

August 5th, 2007

penghindaran ini
segala penipuan terhadapmu ini
apakah benar

tatapan elang yang tiada terlupakan itu
beserta barisan bait yang selalu kau katakan
apakah hanya sebuah angin bagiku

apakah aku salah
dan mengelabui semuanya
atau hanya ibaku saja kepadamu

yang baru ini aku rasakan
yang dulu aku tolak semuanya
tanpa terima kasih bagai karang

sesal
tapi apakah benar yang kurasakan
ini sesal namanya
atau kasihan
atau bahkan cinta

kenapa rasa-rasa itu
begitu tipis
begitu terkait satu sama yang lain
benarkah ini semuanya

hanya waktu yang bisa menjawab
dan hanya kamu yang bisa menentukan
aku menunggumu
dan menunggu yakinku

14 Prinsip Jawa

August 5th, 2007

Kita sebagai masyarakat Indonesia tentunya harus menghargai kebudayaan sendiri yang beragam. Dan ternyata banyak ilmu yang dapat kita pelajari dari sana. Aku tiba-tiba mendapatkan beberapa filsafat Jawa yang berbentuk seperti pedoman atau semboyan. Dan kalau diresapi dengan seksama, sungguh luar biasa maksud yang dikandung di dalamnya yang mengandung prinsip untuk menjalani kehidupan agar sukses dan mendapatkan kebahagiaan.. Inilah 14 Prinsip Jawa tersebut:

1.  “Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha”

Artinya berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan

2.  “Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan”

Artinya jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.

3. “Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli”

Artinya bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih; Cepat tanpa harus mendahului; Tinggi tanpa harus melebihi.

4.  “Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman”

Artunya jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja.

5.  “Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman”

Artnya janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

6.  “Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka, Sing Was-was Tiwas”

Artinya jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jjangan suka berbuat curang agar tidak celaka; dan Barang siapa yang ragu-ragu akan binasa atau merugi.

7.  “Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo”

Artinya jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

8.  “Aja Adigang, Adigung, Adiguna”

Artinya jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.

9.  “Sing Sabar lan Ngalah Dadi kekasih Allah”

Artinya yang sabar dan mengalah akan jadi kekasih Allah.

10.  “Sing Prihatin Bakal Memimpin”

Artinya siapa berani hidup prihatin akan menjadi satria, pejuang dan pemimpin.

11.  “Sing Resik Uripe Bakal Mulya”

Artunya siapa yang bersih hidupnya akan hidup mulya.

12.  “Urip Iku Urup”

Artinya hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat.

13.  “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti”

Artinya keberanian, kekuatan dan kekuasaan dapat ditundukkan oleh salam sejahtera.

14.  “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara”

Artinya manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, dan serakah.

Kopi dan Cangkirnya

August 5th, 2007

Aku menemukan tulisan ini entah dari mana, kalo nggak salah dari komputer temen. Judulnya mengenai menikmati Kopi dengan Cangkir.

Ceritanya begini:

Sekelompok alumni satu universitas yang telah mapan dalam karir masing-masing berkumpul dan mendatangi professor kampusm mereka yang telah tua. Percakapan segera terjadi dan mengarah pada komplain
tentang stess di pekerjaan dan kehidupan mereka.

Menawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur dan kembali dengan poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis - dari porselin, plastik, gelas, kristal, gelas biasa, beberapa diantaranya gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah - dan mengatakan pada para mantanmahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu mengatakan : “Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami.”

“Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain.”

“Sekarang perhatikan hal ini : Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis
cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita.”

Tuhan memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya. Jadi nikmatilah kopinya, jangan cangkirnya. Sadarilah jika kehidupan anda itu lebih penting dibanding pekerjaan anda. Jika pekerjaan anda membatasi diri anda dan mengendalikan hidup anda, anda menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan keadaan. Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak merubah diri anda sebagai manusia. Pastikan anda membuat tabungan kesuksesan dalam kehidupan selain dari pekerjaan anda.

Ketika selesai membaca tulisan diatas, aku langsung berkomentar: tulisan dan analogi yang bagus.Tapi aku tahan keinginanku untuk menyingkir dari tulisan ini. Bentar! Jangan-jangan aku seperti
mahasiswa-mahasiswayang sudah lulus tadi. Persis. Aku terlalu melihat kepada cangkirnya. Mana dan apa kehidupanku sekarang. Ah!!!

Lalu sisi lain pikiranku langsung menjawab:

“Untuk menikmati kopi kan harus pakai cangkir (wadah), nah untuk mencapai kenikmatan yang lebih berarti wadahnya harus bagus dan meyakinkan.”

Sisi lain pikiranku nggak mau kalah:

“Beuh, yang penting itu kopinya. Percuma saja kalau kita konsentrasi untuk memilih wadah yang bagus, tapi kita tidak memperhatikan kopinya. Mending mikirin bagaimana kopi yang kita dapat itu enak dan nikmat. Sia-sia kan kalau kita sibuk mencari wadah yang bagus, tetapi kopinya nggak enak, padahal yang menikmati diri kita sendiri. Kan mending mikirin dan mencari kopi yang enak, dan kalau bisa baru mencari wadahnya.”

Sisi pikiranku yang satu nggak menjawab.

Kini tinggal bagaimana pengimplementasiannya.

Hidup itu lebih penting!

    pesan singkat
    panganpuranipun, lagi menyesuaikan dengan transformasi ke WP, jadi kaco semua tulisan, semoga bisa berbenah sehingga enak dibaca
    Kutipan
    Sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak semua bangsa. (Pembukaan UUD 1945)
    Blogroll
    Tags