Untuk Mereka dan Dia
Ya Allah Yang menguasai semesta alam ini
Berilah keselamatan dan kebahagiaan kepada kedua orang tuaku
Jagalah mereka, seperti mereka menjagaku waktu aku kecil
Berilah mereka kelapangan dalam menjalani hidup dan angan bebankan mereka apa yang tidak kuat mereka tanggung
Aku disini di tanah rantau ini
hanya bisa minta uang pada mereka, hanya tinggal memakai atm
Sampai sekarang tiada tahu bagaimana membalasnya kelak
Mungkin hanya dengan keseriusanku dalam menuntut ilmuku ini yang akan membuat mereka bangga
Mungkin juga mereka tidak akan pernah tahu
Bahwa anaknya ini tidak pernah makan lebih dari dua kali sehari
Atau tidak pernah jajan hingga badan turun beberapa kilo
Mungkin mereka juga tidak tahu kalau anaknya sering gali lubang tutup lubang hanya untuk sekedar fotokopi bahan kuliah atau pengen menikmati liburan
Mereka mungkin tidak tahu betapa berat dan susahnya kuliah
Betapa banyaknya tugas yang menumpuk hingga butuh ngelembur tiap malam
Selalu stress jika besok adalah deadline tugas
Dan susahnya mengerjakan ujian
Dan betapa bahagianya anakmu ini kalau habis subuh mendengar suara mu
Wahai bapak-ibuku
Kadang aku menangis di sore hari melepas beban
Rindu akan halaman rumah dan keluargaku
Ya Allah Tuhanku
Berilah hambamu ini ilmu dan pengetahuan
Mendapatkan banyak pengalaman, baik pahit maupun manis
Agar nantinya saya lebih kuat dan tegar menjalani hidup yang keras ini
Dan tentu saja ip yang baik
Agar lekas kedua orang tuaku menjemputku di sini
Melihatku memakai toga
Setelah itu Ya Allah Yang Maha Besar
Mudahkan dan lancarkanlah aku agar mendapat rezeki yang barokah
Agar cita-citaku selama ini bisa terkabul
Yakni pergi bersama kedua orang tuaku memenuhi undanganmu
Ke Rumah Suci-Mu
Sebelum aku minta bapakku untuk melamar anak gadis orang
Amin Ya
Robbal ‘Alamin
———————————————————————————–———————————————————————————–———————————————————————————–———————————————————————————–———————————————————————————–
Ya, Allah ya robbi
Betapa rindunya kami bertemu engkau dan kekasihmu dan juga anak kami
Anakku, engkau belum tahu
Betapa beratnya beban hidup ini
Yang kami ingin agar engkau belajar dan banyak mendapat pengalaman
Juga pembelajaran yang akan membuat dirimu jadi manusia kuat
Dan tercapai cita-citamu
Engkau anakku, pergi jauh ke luar kota demi menuntut ilmu
Kini bapak dan ibumu baru sadar mengapa pada saat engkau kecil sering menangis keras
Hanya karena bapakmu ini harus meninggalkanmu sejenak pergi kerja pada pagi hari
Sekarang kami baru tahu perasaan itu saat engkau pergi jauh
Sangat susah memang ditinggalkan oleh orang yang disayangi
Anakku, engkau belum tahu rasanya mencari nafkah hanya untuk sesuap nasi
Kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala hanya untuk bisa mentransfer uang kepadamu tiap bulan
Ya Allah, Maha Pengatur Segalanya, lancarkan rezeki kami agar tetap bisa menyekolahkan anakku
Ya Allah….
Kuatkanlah iman anak kami ini
Jagalah dia agar tidak pernah berbuat yang tidak benar, selalu di jalan-Mu
Agar tidak seperti Si Fulan, tetangga sebelah
Yang malah pulang tidak membawa gelar sarjana
Tetapi membawa seorang bayi beserta ibunya
Ya Allah, jangan ambil nyawa kami dulu, sebelum melihat anak kami memakai toga
Mudahkanlah urusan anak kami agar cepat
Kami menjemputnya di mimbar sarjana
Ya Allah….
Peliharalah rasa malu seperti ini kepada kami dan juga anakku
Jauhkanlah dari sifat sombong dan kikir
Dan mampu berdiri tegak lagi ketika jatuh
Ya Allah, Jadikan anakku sholeh dan selalu mengingat-Mu
Selalu mendoakan kedua orang tuanya
Engkaulah Maha Pendengar Doa
Amin…ya Robbal
‘Alamin
(doa ini yang agak aneh dan lucu (hush! doa koq lucu sih) ini sebenarnya sudah sangat lama aku tulis, ketika masih ngekos, terinspirasi dari kehidupan-kehidupan nyata, dan kehidupan anak kos, membuatku rindu akan masa-masa perjuangan dulu. yah, beruntunglah orang yang pernah ngekos ato asrama dalam rangka menuntut ilmu, pasti ada segudang hikmah, pengalaman dan pembelajaran yang dapat diambil dalam keadaan demikian. ya, semoga kita selalu di mudahkan urusan kita, di beri beban yang dapat kita pikul dan mampu menjawab segala tantangan di depan. amin/)
AKOE | Comment (0)
Suatu Pagi
Kumasuki gang di kompleks perumahan dengan mata ngantuk. Portal di buka oleh satpam yang sedang jaga. Kubuka jendela mobil sebelah kiri, kutersenyum kepada bapak tua beruban yang kelihatan lelah banget menahan kantuknya.
“Pak, sendirian jaganya?”
“Ya, A’, gantian sekarang bapak yang jaga sendirian”
Kutersenyum lagi sembari membayangkan bagaimana kehidupan Bapak Dasep kesehariannya sebagai penjaga kompleks. Aku ambil seplastik martabak dan rokok Dji Sam Soe yang tadi aku beli di jalan.
“Pak ini ada rokok sama martabak”
“Oh, ya A’, hatur nuhun” katanya sambil tersenyum sambil mengambil sebungkus plastik yang aku kasih lewat jendela.
Kulanjutkan perjalananku menuju rumah kontrakan. Sampai depan rumah ku buka garasi dan kumasukkan mobil. Kudengar penyiar radio yang lagi membacakan kirim-kiriman salam. Kumatikan radio sambil melihat jam elektrik di dashboard. 03.17 am.
Hahhhh, kuhela nafasku. Betapa capeknya badan ini. Kubergegas keluar ingin segera tidur. Aku ambil kunci rumah yang sengaja ditaruh di atas pintu menungguku kedatanganku kemudian ku buka pintu rumah. Di ruang tengah, teve masih menyala, sedang menonton temenku yang ketiduran di sofa. Kulempar tasku di tempat tidur, hahhhh! Langsung kujatuhkan tubuhku di kasur busa yang sudah nggak empuk lagi tanpa ganti pakaian.
Capek, batinku. Badan dan pikiran. Kupejamkan mata.
Hidup ini emang capek coi! Hanya begini saja mengeluh! Hidup adalah perjuangan, kalo kata Ahmad Dhani. Ya, capek itu yang membuat kita bisa meraih cita-cita dan impian kita, kata sebelah pikiranku mengatai diriku sendiri.
Kubuka mata lagi dan bangkit dari tidurku, pergi ke kamar mandi. Sampai kamar mandi kencing, cuci muka, gosok gigi dan berkaca.
Semangat men, hidup emang berat dan harus diperjuangkan, hanya orang-orang lemah yang nggak akan berhasil dalam hidupnya.
Kuputar kran, dan air mengalir lewat selang. Kuambil air wudhu berniat sholat hajat, karena belum tidur malam ini. Kuganti pakaianku dengan kaos lengan panjang dan sarung, juga songkok beludru yang kutaruh di atas meja. Kugelar sajadah dan ku terasyikkan dengan sholat.
Setelah sholat dan dzikir, kubaringkan tubuhku masih di atas sajadah. Di alam pikiranku kubayangkan aku sedang berada di rumah orang tuaku di kampung. Memandangi bapak dan ibuku yang sudah tua tersenyum padaku. Ingin kupeluk mereka dan minta maaf karena kesibukanku sehingga jarang untuk pulang ke kampung. Hal ini membuatku tidak nyaman, dan ku bangkit dari tidurku. Kuberanjak ke arah meja komputer dan kunyalakan komputerku. Ku tinggal ke dapur dan membuat segelas susu untuk menghangatkan tubuhku.
Kemudian, sambil minum susu di gelas Simpsons, aku buka e-mail yang masuk ke account yahoo-ku. 4.11 am, waktu utnuk adzan subuh sebentar lagi. Kutahan kantukku sambil membuka-buka blog temenku. Tersenyum membaca postingan mereka yang konyol-konyol, hingga terdengar sahu-sahutan adzan subuh dari masjid-masjid dan surau-suaru yang berada di kompleks. Ku bangkit dan kuberangkat ke masjid.
Sampai di rumah lagi sudah pukul 5 pagi. Mathari pagi sudah malu-malu menampakkan sinarnya. Tidur setelah subuh bisa menjauhkan rezeki, kalau bisa tahan setelah dhuha, aku pernah denger atau baca dari siapa gitu. Sebenarnya kantukku sudah hilang, tapi mengingat nanti siang, kegiatan begitu full dan tidak boleh kesiangan, aku matikan komputerku dan kududuk di sofa sebelah temenku yang sedang tidur. Ingin kubangunkan dia untuk sholat subuh, tapi nggak tega. Dia kelihatan capek banget. Dan aku tahu itu, bentar lagi lah aku bangunin. Kubayangkan apa saja yang harus aku lakukan nanti siang, tapi nggak ada semenit aku sudah terlelap.
Selamat tidur.
(yah, tulisan ini terinspirasi dari temen-temenku yang sedang berjuang dalam hidupnya. memang capek hidup ini, dan kita harus berjuang. bersama kesulitan pasti terdapat kemudahan koq. Nggak ada kata menyerah dan mari kita maju bersama)
AKOE, Cerita | Comment (0)Sayapku
Kuambil HP Motorola yang berdering di atas meja kecil, disamping komputerku yang kini dihadapanku. Kulihat tulisan yang berkedip-kedip di layar, “DILA CALLING…”. Sekejap aku berpikir, tapi langsung aku terima teleponnya,
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam” jawabku
Dahiku berkerut. Suara Dila begitu mendesah dan bernada sedih
“Mmm…”Aku bergumam memancing dia bicara, soalnya setelah 5 detik ini dia belum memulai pembicaraan.
“Ma…bisa ke rumahku nggak?” katanya lirih.
Jarang sekali, bahkan gak pernah Dila dengan tiba-tiba menyuruhku untuk kerumahnya. Aneh, batinku.
“Ke Rumahmu?”
“Iya”
“Sekarang?” tanyaku bingung, masih berfikir ada apa sebenarnya
“E…kalo bisa sih?”
Aku lihat jam di dinding kosanku. Aku ada janji sama temenku untuk pergi ke BEC setengah jam lagi.
“Ya udah. Tunggu ya. Eh, emangnya ada apa sih?” tanyaku mencoba mencairkan pembicaraan yang menurutku kaku ini.
“Nggak enak kalo diomongin lewat telepon…”
“Nyante aja, i’ll be there soon”
“Makasih ya Ma…Bye…”
Tut..tut..tut…
—****—
Di teras rumah Dila aku menunggu, mencoba mengira-ngira apa yang akan dikatakan Dila. Sejenak dia datang membawa piring dan dua gelas jus jeruk dan kemudian menaruh martabak yang tadi aku bawa ke piring.
“Pada kemana bokap-nyokap?”
“Pergi semua. Sendirian aku sejak pagi tadi”
“Nggak kuliah?”
Dila menggelengkan kepalanya. Aku mengambil gelas dan meminum jus jeruk di meja, menunggu Dila memulai percakapan.
“Ma, ayuk kita keluar ya…”
Kupandangi wajah Dila, mecoba menerka apa yang ada di pikirannya. Aneh betul, sejak berteman akrab selama 1 tahun baru kali ini Dila mengajak keluar. Hanya berdua lagi.
“Kemana?” kulirik jam tanganku, masih terpikir janji ama temenku di BEC nanti
“Ke kebun teh di atas yuk” katanya
Haaahhh, ke kebun teh, sore-sore begini, emangnya mau ngapain.
“Ayuklah, bentar aja…” dia tersenyum manja, ah, mana bisa aku menolaknya. Aku pun mengangguk.
—****—
Aku parkirkan motorku di dekat gubuk di pinggir jalan yang jualan jagung bakar. Dila lagi asyik menikmati udara segar dengan melebarkan tangannya, memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam. Rambutnya yang terurai panjang dibuai angin gunung. Sweater merah jambu yang dikenakannya membuatnya tampak manis sekali. Dia kemudian berjalan ke arah kebun teh di pinggir jalan, naik gundukan tanah dan berjalan naik ke bukit. Di tengah-tengah kebun teh di bukit itu dia menoleh kepadaku.
“Maaaa!!!….Ayuk kesini naik ke atas!”
Aku tersenyum kepadanya lalu memandang sepatuku yang baru tadi aku cuci tadi pagi, sepertinya sepatuku hari ini kurang beruntung.
Di puncak bukit, ada sepetak tanah kecil kosong yang aku rasa ini sebagai tempat para pemetik teh untuk beristirahat. Kami duduk di sana, memandangi hamparan tanaman teh yang seperti karpet hijau. Angin dingin ini membuatku damai. Setelah 1 menit menikmati suasana dan pemandangan yang begitu indah, Dila berbicara.
“Ma..”, ujarnya masih tetap memandang ke arah matahari yang mulai tenggelam, “Bagaimana kalau hari esok tidak datang?”
Aku pandangi Dila. Aneh betul dia hari ini. Aku nggak segera menjawabnya, menyusun kata-kata yang tepat. Perasaan aku pernah dah mendengar pertanyaan seperti ini.
“Kalau esok nggak ada aku akan melakukan hal yang terbaik hari ini, minta maaf kepada semua orang yang pernah aku sakiti dan membahagiakan orang yang aku sayangi.”
“Apakah semua itu bisa kamu lakukan dalam satu hari?”
“Mmmm…semoga saja bisa”, jawabku serius, tapi Dila malah ketawa. Aku diam saja, menatap kepulan asap jagung bakar dari arah gubug tadi.
“Ma…”, dia menarik ujung lengan kaosku. Dia memandangiku dengan penuh perasaan, “Aku minta maaf yah…”
Bergetar hatiku dan berhenti nafasku. Bukan karena ucapan yang baru dia katakan, that’s because the way she look deeply at me. Dan kita tetap berpandangan mata lama, tanpa suatu kata pun terucap.
Tuhan, terima kasih, aku yakin telah menemukan belahan jiwaku, dan benar sedari dulu aku sudah merasakannya.
To really love a woman
To understand her - you gotta know her deep inside
Hear every thought - see every dream
N’ give her wings - when she wants to fly
Then when you find yourself lyin’ helpless in her arms
Ya know ya really love a woman
(Bryan Adams, Have You Really Love a Woman)
(sudah lama aku tidak menulis sebuah cerpen, dan cerpen diatas aku buat hampir satu tahunan, nggak kelar-kelar, padahal pendek gini. Bayanganku sih, sewaktu menulis pertama kali, ceritanya bakal lebih complicated dan lama, tapi entah kenapa aku segera ingin mengakhirinya, tapi mungkin cerita ini akan bersambung, tapi entahlah,,,)

