3

June 26th, 2008

Story 1

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

“Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia…”

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab haltersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.

“Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri.

Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman… Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir…

“Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya.

“Oh tidak, lanjutkan…” jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia.

“Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”.

Dengan suara perlahan suaminya berkata “Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…”

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia menunduk dan menangis…

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.

Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita? Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.

———————————————————————————————–

Story 2

TERTULIS DALAM BUKU
HARIAN SANG ISTERI

Minggu Malam - Dia bertingkah aneh. Sebelumnya kami berjanji bertemu di Cafe. Aku shopping seharian dg teman-teman, sehingga mungkin dia kesal karena aku agak telat sampai di Cafe, tapi dia tak berkomentar.

Ngobrolnya nggak nyambung, jadi aku usul kita pergi ketempat yang agak sepi supaya ngobrolnya lebih enak, dia setuju tapi tetap diam dan berjarak. Aku tanyakan apa yang salah - dia jawab,

“Tak ada”.

Aku tanyakan apakah kesalahan ku yang membuatnya kesal. Dia bilang hal ini tak ada kaitannya dengan ku dan minta aku nggak usah khawatir.

Dalam perjalanan pulang, ku bilang aku mencintainya, dia cuma tersenyum tipis dan tetap menyetir. Aku tak bisa menjelaskan perangainya sore itu. Aku tak habis pikir kenapa dia tak menjawab, “aku cinta kamu juga”. Sesampainya dirumah, aku merasa kehilangan dia, dan seolah-olah dia tak menghendaki ku lagi. Dia hanya duduk dan nonton depan TV; dia terlihat jauh dan menghilang…..

Akhirnya aku putuskan untuk tidur. Sekitar 10 menit kemudian, dia menyusul ke kamar. Aku nggak tahan lagi, kuputuskan untuk menghadapinya dan menanyakan soal sebenarnya, tapi dia langsung tertidur. Aku mulai menangis sampai tertidur. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Hidupku serasa kiamat…

TERTULIS DALAM BUKU
HARIAN SUAMI

Hari ini Manchester United kalah. SIALAAANN!!!

———————————————————————————————–

Story 3

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-2 saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.

Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan perceraian. ‘Mengapa?’ dia bertanya dengan terkejut. ‘Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini’ jawab saya. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya,’ Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?’

Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit dan itu benar, saya pikir saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya. Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan’ Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya. Seandainya katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?’

ia berkata, ‘Saya akan memberikan jawabannya besok’. Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan?

‘Sayang, Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk men-jelaskan alasannya’. Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.

‘Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, lalu saya harus memberikan jari-2 saya untuk memperbaiki programnya’.

‘Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus mem-berikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu’. ‘Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-2 baru yang kamu kunjungi, saya harus memberikan mata saya untuk mengarahkanmu’.

‘Kamu selalu pegal-2 pada waktu tamu kamu’ datang setiap bulannya, saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal’.

‘Kamu senang diam didalam rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi ‘aneh’. Lalu saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon-2 dan cerita-2 untuk menyembuhkan kebosananmu’.

‘Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong meng-guntingkan kukumu dan
mencabuti ubanmu. Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu’
‘Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Tapi saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati’ Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali’

Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana dengan susu segar
dan roti kesukaanmu’

Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang dulu sangat aku cintai, dia begitu penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Aku tidak kuat lagi dan langsung memeluknya dan rebah dibahunya yang bidang sambil menangis, Oh, Tuhan, saya percaya, tidak ada orang yang pernah mencintaiku seperti yang dia lakukan dan saya harus melupakan ‘bunga’ itu sendiri.
I

tulah hidup, atau boleh dikatakan, CINTA, ketika seseorang dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita mengabaikan cinta sejati yang berada diantara kedamaian dan kesepian. Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tidak punya bentuk. Bisa juga dalam bentuk yang tidak ingin kita ketahui. Bunga, saat-saat yang romantis hanyalah bentuk awal dari hubungan. Diatas semua ini, pilar cinta sejati harus tegak berdiri dan itulah kehidupan kita.

———————————————————————————————–
Ketiga cerita di atas, aku copas saat surfing tengah malam, seingatku aku ambil dari dokter keluarga dan forum terbesar Indonesia. 3 cerita yang menarik perhatianku pada 3 malam itu. 3 Cerita yang menginspirasiku dalam 3 malam itu. 3 cerita dengan sudut pandang dan masalah yang berbeda.
Kenapah? Mbuh ah!!!

Suatu Malam

June 7th, 2008

Satu_bintangKuteguk habis kopi yang sudah dingin dari mug Simpsons yang selalu menemaniku itu. Kuluruskan tanganku, dan me”ngolet”kan tubuhku, melancarkan peredaran darah di seluruh tubuh yang kata orang semakin kurus aja. Kukucek kedua mataku yang sudah berair karena lama menatap monitor komputer. Jam di sebelah pojok kanan bawah monitor memunculkan angka 01.17. Badanku minta untuk bergerak, perut minta diisi, mata minta ngeliat pada obyek yang jauh.

Akhirnya aku bangkit dan mencari jaket yang menumpuk di kamar, mencari kunci motor, dengan jalan yang agak terhuyung-huyung berniat keluar untuk nyari makan. Ke kamar mandi dulu, kencing dan membasuhkan sedikit air dingin ke muka dan rambut, biar seger. Di kamar mandi itu aku berkaca. Beuh, koq keliatan makin tua aja, perlu potong rambut sepertinya ini.

Aku keluar. Dingin pisan malem ini. Udara malam sepertinya nggak cocok untuk paru-paruku ini, minta untuk dibatuk dan dimuntahkan isinya. Sepanjang perjalanan naik motor, sepertinya pikiranku melayang. Nggak fokus, kemana-mana. Akhirnya cuman pedagang kaki lima nasi goreng yang akhirnya aku temukan yang masih buka selarut ini, setelah mencari-cari di sekitar kompleks kali aja ada makanan yang lebih bergizi.

Aku mesen nasi goreng 1,5 porsi dengan 2 telur mata sapi setengah matang. Aku ngobrol dengan bapak tua penjual nasi goreng yang juga sudah ngantuk dengan matanya yang berat memandangiku. Sambil meracik bumbu, aku iseng bertanya-tanya pada Bapak tersebut tentang daerah sini, tempat aku ngontrak yang belum genap satu tahun. Bapak itu ternyata sudah 14 tahun jualan di sini.

“Ya, dik, pas sejak saya jualan di sini, itu masih sawah semua. Dulu di jalan ini cuman kecil, sekarang sudah di perbesar. Sepi betul jalan ini dulu”.

Aku hanya manggut-manggut saja. Bapak itu juga cerita, sedikit sejarah tempat ini, kompleks perumahan di mana aku ngontrak, yang dulu serem, sering terjadi kehilangan, sasaran para maling
karena masih sangat sepi. Ya, dan sekarang bapak penjual nasi goreng tersebut masih bertahan di tempat ini. 14 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kustop pikiranku sampai sini, sudah nggak kuat lagi. Rasanya pengen melayang badan ini. Pikiranku kosong selama beberapa menit. Kuliriklangit. Bulan 3/4 dengan di temani hanya satu bintang.

Aku tersadarkan ketika bapaknya mematikan kompor. Langsung aku merogoh saku mengeluarkan hapeku, melihat jam. Ku hela nafasku. Kupersiapkan uang sepuluh ribuan, dan aku pun pulang dengan pikiran penuh kekosongan. Sampe di rumah, langsung kumakan habis nasi goreng 1,5 porsi tersebut sambil nonton teve yang lagi menayangkan berita tengah malam, di selingi batuk-batuk-efek kena udara dingin.

Tapi…

Kutonton teve dengan pandangan kosong, telinga sama sekali nggak kemasukan bunyi apapun. Kutelan nasi, tapi… lidahku mati rasa nggak merasakan apa-apa. Kosong. Sudah sholat Isya’ belum yah? Tapi aku nggak mampu mengingatnya lagi, kenangan 5 jam lalu. Pengen sholat malam ah… Tapi…. Sambil masih memegang sendok, tiba-tiba gelap. Gelap. Hitam. Sepi. Dan kosong.

    pesan singkat
    panganpuranipun, lagi menyesuaikan dengan transformasi ke WP, jadi kaco semua tulisan, semoga bisa berbenah sehingga enak dibaca
    Kutipan
    Sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak semua bangsa. (Pembukaan UUD 1945)
    Blogroll
    Tags