01:32, keduapuluh satu
Asap dari rokok Dji Sam Soe mengepul ke atas dari mulut Bapak Rohmat, yang sekarang duduk di lincak bersamaku. Ya, sekarang kami berdua sedang ngobrol di depan rumah Pak Rohmat, tetangga di desaku. Sekarang aku lagi pulang kampung, menikmati masa cuti, ato lebih tepatnya mencutikan diri dari hiruk-pikuknya kehidupan di kota besar, penat dan lelah mencarisesuap nasi.
Ya, Pak Rohmat adalah salah satu orang yang aku kagumi, yang aku anggap sebagai guruku semenjak aku masih sering ngejar layang-layang putus, sampai aku kemudian harus meninggalkan desaku ini
untuk meneruskan kuliah.
Suara jangkrik di malam hari yang sudah lama nggak aku dengar, malam yang temaram dan nggak terlalu dingin, membuatku nyaman sekali untuk ngobrol berduaan dengan Bapak satu ini. Aku ikut menyulut rokok yang di taruh di lincak.
“Wah, sekarang Nak Imam merokok yah?”
Aku tersenyum, sambil menghembuskan asap rokok dji sam soe yang berat hisapannya ini.
“Oh, terima kasih ya rokoknya” ujar sang bapak. Ya, aku dulu pas jaman SMA, pas minta doa restu pada Pak Rohmat untuk SPMB di kota, aku berjanji ke beliau, satu saat nanti aku akan membelikan rokok untuk beliau dari uangku sendiri.
Setelah basa-basi lama, menanyakan segala kabar dan kejadian di kampung selama aku pergi merantau, cerita tentang pekerjaan dan pengalamanku di kota besar, akhirnya aku bertanya pada Pak Rohmat.
“Bapak, saya sekarang lagi bingung.”
Pak Rohmat memandangiku sejenak, seperti membaca air mukaku, menebak yang ada di pikiranku. Itulah istimewanya beliau, seperti bisa membaca apa yang sedang ingin aku utarakan, dan kemudian memeberiku nasihat-nasihat yang selalu aku ingat.
“Nak, sekarang ini apa tujuan hidupmu?”
Ah, aku ingat pertanyaan ini diajukan ketika pas Idul Fitri sebelum aku di wisuda S-1. Aku dulu jawab apa yah, Oh…ya… Tapi…. dahiku berkerut mencoba benar-benar menjawab dari hati dan pikiranku, bukan atas yang aku pelajari atau dari orang lain.
“Tujuan untuk hidup adalah bagaimana bisa tetap dan bertahan untuk hidup” jawabku.
Beliau tersenyum.
“Luar biasa kamu Nak, hahaha….”
Ku tertegun. Apanya yang lucu, apa karena jawabanku sudah sangat berbeda dengan jawabanku 1,5 tahun yang lalu.
“Jawabanmu itu sangat menggambarkan apa yang telah kamu lalui, alami selama ini, dan apa cita-citamu kelak.” Beliau kemudian menghabiskan kopi yang sudah dingin, kemudian memanggil istrinya, Bude Siti untuk membuatkan kembali kopi letek pahit kesukaannya.
“Nak Imam, mungkin nggak kalau nanti bapak tanyakan pertanyaan ini di kemudian hari jawabannya akan sama dengan jawabanmu saat ini. Kelak ketika Nak Imam sudah jadi sukses? Kelak ketika Nak Imam sudah beristri dan mempunyai anak? Kelak ketika umurmu sudah 40 tahun?kutermangu saja, nggak ngejawab”
Kutermangu saja, nggak ngejawab
“Jawaban Nak Imam tadi juga merepresentasikan sejauh mana kedewasaan Nak Imam. Eh, Nak Imam sudah punya calon belum??”
Aku tersenyum dan mengangguk.
“Alhamdulillah sudah dan Insya Allah berjodoh.”
Pak Rohmat tersenyum, “Maaf kalau ini klise ya Nak, kadang sesuatu yang sangat kamu inginkan itu tidak baik untukmu kelak, dan yang Nak Imam benci adalah hal yang banyak membawa hikmah ke Nak Imam. Tapi ini benar lho Nak. Bagaimana kita melihat suatu persoalan akan sangat menentukan bagaimana kita membuat keputusan. Ketika kita melihat satu kubus, kita jangan melihatnya hanya dari depan, yang terlihat mungkin cuma 2 atau 3 sisi saja. Kalau memang itu kubus yang penting dan menarik untukmu, lihatlah dari kedelapan sisi, dan itu memang butuh banyak pengorbanan untuk melihat kesemua sisanya. Kita harus memutar kubus itu, kalau bisa diputar, atau mengelilingi kubus itu kalau kubus itu susah di putar untuk melihat semua sisinya.”
“Kalau sisi kubus yang bawah gimana?’ potongku
“Nah, itulah yang paling susah. Kita harus lebih banyak pengorbanan untuk melihat sisi yang satu ini. Itulah misteri dari sebuah kubus. Kadang kita memutuskan ndak perlu melihat sisi yang satu ini, karena dengan 7 sisi yang lain sudah membuat kita puas dan yakin bahwa itu kubus yang baik dan sempurna. Kadang dengan pengalaman dan umur, kamu bisa menebak dengan tepat sisi-sisi kubus yang lain. Eh, berapa umur Nak Imam sekarang?”
“23″
“Hhhmmmm, masih muda kamu Nak, tapi jawabanmu tadi seperti sudah kepala 3. Nak Imam, hidup ini indah, bagi orang-orang yang menganggapnya indah, dan hidup ini berat yang menganggapnya berat. Sudut pandanglah yang membuat perbedaan ini. Belum tentu sang menteri yang naik BMW itu lebih merasa hidupnya bahagia daripada sang tukang becak yang hidupnya pas-pasan. Cara berpikir dan sudut pandanglah yang membuat kita tiap orang berbeda dalam menjalani hidup. Nikmatilah hidup yang
sudah di anugerahkan oleh Allah ini. Bapak ini sangat bersyukur bisa hidup di desa tenang ini, tanpa hiruk pikuk banyak orang dan kendaraan, daripada Bapak jadi menteri yang harus mikir keras, mondar-mandir kesana-kemari. Tapi semoga saja para menteri kita itu bahagia dan menikmati pekerjaannya.”
“Ya, apalah gunanya kita hidup kalau setiap waktu kita tidak merasa bahagia. Pekerjaan itu hanya alat
untuk mencari rezeki. Sedikit dan banyaknya itu Tangan Yang Diatas yang berkuasa. Orang-orang yang disekitar kita jauh lebih penting, orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita jauh lebih butuh perhatian dan kasih sayang kita. Nah, tapi kenapa kita malah sering menghiraukan mereka coba? Kenapa kita lebih memilih yang lain coba. Kenapa kita mudah marah kepada keluarga dan orang yang kita cintai, dan sangat ramah kepada orang yang nggak kita kenal. Kenapa kita jarang menghargai orang-orang yang kita cintai, kenapa kita jarang mengucapkan berterima kasih kepada orang-orang di dekat kita dan bersyukur mereka selalu ada di dekat kita?”
Aku terbisu. Semua tamparan-tamparan telak tadi kuterima dengan pasrah. Perkataan Pak Rohmat berikutnya sudah nggak masuk lagi kekepalaku yang langsung pusing terhuyung-huyung. Akhirnya percakapan dengan Pak Rohmat kusudahi setelah melihat jam tanganku yang sudah menunjuk angka 8, nggak sopan bertamu sampai malam-malam kepada orang tua, selain itu juga aku sudah banyak mendapat jawaban yang membuatku pusing sekarang, cukup sudah aku nggak mau mendapat tamparan
lagi malam ini. Aku janji besok akan sowan lagi ke rumah beliau, ya besok ketika tamparan tadi sudah masuk ke seluruh tubuhku. Setelah pamit dengan Bapak dan Ibu Rohmat, kulangkahkan kedua kakiku menuju rumah orang tuaku sambil menengadah ke langit yang cerah. Kulihat bintang jatuh di ufuk selatan. Ya, besok.
22
22. Angka kembar. 1 angka lebih banyak daripada yang kemarin. Ya, angka itulah yang akan aku tulis di formulir-formulir 1 tahun ke depan pada bagian usia. Ya, Allah, aku sangat bersyukur telah di beri umur dan kesempatan selama ini. Semoga masih panjang hal-hal yang dapat aku raih dan bermanfaat bagi semuanya.
Saatnya untuk review, refleksi, introspeksi dan tentu saja planning ke depan. Sebelumnya aku baca dulu tulisan-tulisan yang aku khususon tulis 2 tahun dan 1 tahun yang lalu. Fiuh!!! Luar biasa!!
Pernah merasakan yang namanya sesal??? Pernahkah meng-goblogkan diri sendiri apa yang telah di perbuat kemarin?? Pernah menertawai diri sendiri atas kekanak-kanakannya dirimu dulu??? Pernahkah salah omong di masa yang lalu atau mengapa dulu nggak ngomong seperti ini???
Yupe, perasaan di atas selalu terjerembab di benakku dan terngiang di telingaku saat memutar waktu mengingat masa lalu. Kenapa dulu aku berbuat itu, kenapa nggak melakukan ini, kenapa nggak ngomong ini. Mungkin ini yang dikatakan orang “university of life”, kita hidup untuk belajar, belajar dari masa lalu untuk masa depan, alias “nggak ada noda ya nggak belajar”.
Ya, kalau secara umum, tahun ini adalah tahun luar biasa bagiku. Bagaikan grafik yang dari dulu mengikuti pola, mengikuti persamaan, tiba-tiba titik di sumbu x pada y tahun ini begitu outlier. Luar biasa. Siapa yang nyangka satu tahun ini saya jadi begini. Begitu banyak hal baru, pengalaman, ilmu, semuanya begitu banyak yang aku raih. Kamu pantas senang dan bahagia koq, hidup ini begitu indah, manis dan tentu saja perlu dinikmati. Selama ini dalam umurku, tahun ini boleh di bilang tahun terbaikku dan luar biasa. Benar2 drastis perubahan yang telah aku lakukan. Beberapa impian-impian tiba-tiba menjadi kenyataan. Begitu banyak sekali perubahan yang terjadi. Fantastis. Nggak ada lagi STD. Istimewa. Pertanyaan tahun lalu yang sempat terucap, apakah aku puas setahun ini. Ya, aku cukup puas, bahkan sangat puas.
Konsekuensi dan pengorbanan memang ada. Ada beberapa hal juga yang nggak aku dapat, mengorbankan konsistensi dan komitmen, reduksi di beberapa bagian. Ya itulah hukum keseimbangan, harus imbang antara yin dan yang. Pengorbanan memang harus. Tapi emang ada dua hal sangat penting yang, why…, dalam setahun ini belum bisa aku jaga dengan baik. Dan ini harus aku ikat erat-erat untuk tahun depan, bahkan sampai mati harus di pertahankan.
Dan hal yang terindah dan termanis adalah kamu sayang, dan tentu saja lebih super-nya diriku. I’m stronger than u, superman!!! Sering berpikir diri sendiri, mengapa aku disini sekarang. Harusnya aku disana, tetap mengikuti trend garis dari persamaan hidupku sebelumnya. Bener-bener anugerah terbesar ini semunya. Kerja keras, jerih payah, keringat memang terbayarkan lunas. Sekarang harusnya saat untuk menghibur diri. Pantaslah untuk berileks sejenak. Masih muda uy saya, 22 tahun, ingat, belum cukup dewasa sepenuhnya kamu, nikmatin dululah. Anak bau kencur, ya nggak usah sok-sokan dulu lah, nikmati dulu, ini pesan dari sedikit sisi bagianku kepada ilham. Sedangkan untuk
ilham berikutnya yang membaca tulisan ini nanti, ingat jaga anugerah ini semuanya, selalu besikap syukur itu wajib hukumnya, sombong di buang jauh. Kerja keras memang perlu lagi di tambah ke depannya, penyakit malas dan inkonsistensi jangan dibuang jauh, tapi disingkirkan, dikurangi dikit-dikit, ya memang malas dan inkonsistensi adalah hiburan bagi kamu.. Rekoso sik ben suk iso urip mulyo.
So, apa yang terjadi setahun ke depan??? Aku nggak mampu membayangkan, mengingat setahun kemarin yang telah aku raih. Dan sebenarnya masih sangat banyak yang ingin aku tulis. Pengen curhat di blog ini, namun, ah…Lagi-lagi aku tutup saja dengan pertanyaan yang sama seperti setahun yang lalu:
Apa yang aku ketahui?
Apa yang dapat aku harapkan?
Apa yang harus aku lakukan?
AKOE | Comment (0)