Besoknya

August 1st, 2008

Dscf0030a1Malam yang gerah sekali. Apa pertanda mau hujan malam ini, pikirku. Kuberjalan gontai ke arah Rumah Pak Rohmat, setelah jamaah di musholla. Ya, aku menepati janji untuk datang ke rumah beliau malam ini. Kata-kata beliau masih sangat terngiang di kedua telingaku.

Tujuan hidup??? Sudut pandang? Kubus? Cinta? Orang-orang sekitarku? Orang-orang yang mencintaiku? Ingin kutanyakan apa maksud beliau? Beliau seperti memotong-motong petuahnya…tapi benar-benar menamparku.

Kutatap langit. Rembulan tertutup sinarnya sebagian oleh awan. Memang mendung. Sampai juga aku di depan rumah Pak Rohmat. Pelataran yang luas, di pojok tumbuh pohon bougenville. Di bawahnya banyak sekali rontokan bunga dari pohon tersebut. Rerumputan jepang sebagian menutupi halaman rumah Pak Rohmat.

Assalamualaikum……Tok…tok…tok….

Pintu rumah yang terbuat dari pohon jati ini, mungkin sudah berumur 30-an tahun. Pintu terbuka lebar, dan memang itulah khas rumah di kampung, hampir terbuka terus pintunya. Kalo tertutup itu pertanda tidak ada orang dalam rumah.

“Waalaikumsalam…” Suara Bu De Siti dari dalam rumah keluar dari rumah.

“Eh, Dik Imam…monggo masuk dulu”

Aku tersenyum pada Bu De Siti.

“Pak Rohmat barusan tidur Dik Imam. Lagi nggak enak badan. Meriang.”

“Oh, begitu.. ya Bu De… Nggak usah di bangunin ya Bu De…”

Kemudian aku duduk di kursi ruang tamu. Kami ngobrol sebentar, sekedar basa-basi selama 15an menit. Kemudian aku pamit pulang. Yah, besok aja. Harapanku untuk ngobrol dengan guruku tertunda untuk besok pagi. Belum waktunya. Ya, harus belajar ikhlas dan tentu saja sabar. Pyuuh…kuhela panjang nafasku.

    pesan singkat
    panganpuranipun, lagi menyesuaikan dengan transformasi ke WP, jadi kaco semua tulisan, semoga bisa berbenah sehingga enak dibaca
    Kutipan
    Sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak semua bangsa. (Pembukaan UUD 1945)
    Blogroll
    Tags