Besoknya

August 1st, 2008

Dscf0030a1Malam yang gerah sekali. Apa pertanda mau hujan malam ini, pikirku. Kuberjalan gontai ke arah Rumah Pak Rohmat, setelah jamaah di musholla. Ya, aku menepati janji untuk datang ke rumah beliau malam ini. Kata-kata beliau masih sangat terngiang di kedua telingaku.

Tujuan hidup??? Sudut pandang? Kubus? Cinta? Orang-orang sekitarku? Orang-orang yang mencintaiku? Ingin kutanyakan apa maksud beliau? Beliau seperti memotong-motong petuahnya…tapi benar-benar menamparku.

Kutatap langit. Rembulan tertutup sinarnya sebagian oleh awan. Memang mendung. Sampai juga aku di depan rumah Pak Rohmat. Pelataran yang luas, di pojok tumbuh pohon bougenville. Di bawahnya banyak sekali rontokan bunga dari pohon tersebut. Rerumputan jepang sebagian menutupi halaman rumah Pak Rohmat.

Assalamualaikum……Tok…tok…tok….

Pintu rumah yang terbuat dari pohon jati ini, mungkin sudah berumur 30-an tahun. Pintu terbuka lebar, dan memang itulah khas rumah di kampung, hampir terbuka terus pintunya. Kalo tertutup itu pertanda tidak ada orang dalam rumah.

“Waalaikumsalam…” Suara Bu De Siti dari dalam rumah keluar dari rumah.

“Eh, Dik Imam…monggo masuk dulu”

Aku tersenyum pada Bu De Siti.

“Pak Rohmat barusan tidur Dik Imam. Lagi nggak enak badan. Meriang.”

“Oh, begitu.. ya Bu De… Nggak usah di bangunin ya Bu De…”

Kemudian aku duduk di kursi ruang tamu. Kami ngobrol sebentar, sekedar basa-basi selama 15an menit. Kemudian aku pamit pulang. Yah, besok aja. Harapanku untuk ngobrol dengan guruku tertunda untuk besok pagi. Belum waktunya. Ya, harus belajar ikhlas dan tentu saja sabar. Pyuuh…kuhela panjang nafasku.

01:32, keduapuluh satu

July 20th, 2008

Ikeya_sekiAsap dari rokok Dji Sam Soe mengepul ke atas dari mulut Bapak Rohmat, yang sekarang duduk di lincak bersamaku. Ya, sekarang kami berdua sedang ngobrol di depan rumah Pak Rohmat, tetangga di desaku. Sekarang aku lagi pulang kampung, menikmati masa cuti, ato lebih tepatnya mencutikan diri dari hiruk-pikuknya kehidupan di kota besar, penat dan lelah mencarisesuap nasi.

Ya, Pak Rohmat adalah salah satu orang yang aku kagumi, yang aku anggap sebagai guruku semenjak aku masih sering ngejar layang-layang putus, sampai aku kemudian harus meninggalkan desaku ini
untuk meneruskan kuliah.

Suara jangkrik di malam hari yang sudah lama nggak aku dengar, malam yang temaram dan nggak terlalu dingin, membuatku nyaman sekali untuk ngobrol berduaan dengan Bapak satu ini. Aku ikut menyulut rokok yang di taruh di lincak.

“Wah, sekarang Nak Imam merokok yah?”

Aku tersenyum, sambil menghembuskan asap rokok dji sam soe yang berat hisapannya ini.

“Oh, terima kasih ya rokoknya” ujar sang bapak. Ya, aku dulu pas jaman SMA, pas minta doa restu pada Pak Rohmat untuk SPMB di kota, aku berjanji ke beliau, satu saat nanti aku akan membelikan rokok untuk beliau dari uangku sendiri.

Setelah basa-basi lama, menanyakan segala kabar dan kejadian di kampung selama aku pergi merantau, cerita tentang pekerjaan dan pengalamanku di kota besar, akhirnya aku bertanya pada Pak Rohmat.

“Bapak, saya sekarang lagi bingung.”

Pak Rohmat memandangiku sejenak, seperti membaca air mukaku, menebak yang ada di pikiranku. Itulah istimewanya beliau, seperti bisa membaca apa yang sedang ingin aku utarakan, dan kemudian memeberiku nasihat-nasihat yang selalu aku ingat.

“Nak, sekarang ini apa tujuan hidupmu?”

Ah, aku ingat pertanyaan ini diajukan ketika pas Idul Fitri sebelum aku di wisuda S-1. Aku dulu jawab apa yah, Oh…ya… Tapi…. dahiku berkerut mencoba benar-benar menjawab dari hati dan pikiranku, bukan atas yang aku pelajari atau dari orang lain.

“Tujuan untuk hidup adalah bagaimana bisa tetap dan bertahan untuk hidup” jawabku.

Beliau tersenyum.

“Luar biasa kamu Nak, hahaha….”

Ku tertegun. Apanya yang lucu, apa karena jawabanku sudah sangat berbeda dengan jawabanku 1,5 tahun yang lalu.

“Jawabanmu itu sangat menggambarkan apa yang telah kamu lalui, alami selama ini, dan apa cita-citamu kelak.” Beliau kemudian menghabiskan kopi yang sudah dingin, kemudian memanggil istrinya, Bude Siti untuk membuatkan kembali kopi letek pahit kesukaannya.

“Nak Imam, mungkin nggak kalau nanti bapak tanyakan pertanyaan ini di kemudian hari jawabannya akan sama dengan jawabanmu saat ini. Kelak ketika Nak Imam sudah jadi sukses? Kelak ketika Nak Imam sudah beristri dan mempunyai anak? Kelak ketika umurmu sudah 40 tahun?kutermangu saja, nggak ngejawab”

Kutermangu saja, nggak ngejawab

“Jawaban Nak Imam tadi juga merepresentasikan sejauh mana kedewasaan Nak Imam. Eh, Nak Imam sudah punya calon belum??”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Alhamdulillah sudah dan Insya Allah berjodoh.”

Pak Rohmat tersenyum, “Maaf kalau ini klise ya Nak, kadang sesuatu yang sangat kamu inginkan itu tidak baik untukmu kelak, dan yang Nak Imam benci adalah hal yang banyak membawa hikmah ke Nak Imam. Tapi ini benar lho Nak. Bagaimana kita melihat suatu persoalan akan sangat menentukan bagaimana kita membuat keputusan. Ketika kita melihat satu kubus, kita jangan melihatnya hanya dari depan, yang terlihat mungkin cuma 2 atau 3 sisi saja. Kalau memang itu kubus yang penting dan menarik untukmu, lihatlah dari kedelapan sisi, dan itu memang butuh banyak pengorbanan untuk melihat kesemua sisanya. Kita harus memutar kubus itu, kalau bisa diputar, atau mengelilingi kubus itu kalau kubus itu susah di putar untuk melihat semua sisinya.”

“Kalau sisi kubus yang bawah gimana?’ potongku

“Nah, itulah yang paling susah. Kita harus lebih banyak pengorbanan untuk melihat sisi yang satu ini. Itulah misteri dari sebuah kubus. Kadang kita memutuskan ndak perlu melihat sisi yang satu ini, karena dengan 7 sisi yang lain sudah membuat kita puas dan yakin bahwa itu kubus yang baik dan sempurna. Kadang dengan pengalaman dan umur, kamu bisa menebak dengan tepat sisi-sisi kubus yang lain. Eh, berapa umur Nak Imam sekarang?”

“23″

“Hhhmmmm, masih muda kamu Nak, tapi jawabanmu tadi seperti sudah kepala 3. Nak Imam, hidup ini indah, bagi orang-orang yang menganggapnya indah, dan hidup ini berat yang menganggapnya berat. Sudut pandanglah yang membuat perbedaan ini. Belum tentu sang menteri yang naik BMW itu lebih merasa hidupnya bahagia daripada sang tukang becak yang hidupnya pas-pasan. Cara berpikir dan sudut pandanglah yang membuat kita tiap orang berbeda dalam menjalani hidup. Nikmatilah hidup yang
sudah di anugerahkan oleh Allah ini. Bapak ini sangat bersyukur bisa hidup di desa tenang ini, tanpa hiruk pikuk banyak orang dan kendaraan, daripada Bapak jadi menteri yang harus mikir keras, mondar-mandir kesana-kemari. Tapi semoga saja para menteri kita itu bahagia dan menikmati pekerjaannya.”

“Ya, apalah gunanya kita hidup kalau setiap waktu kita tidak merasa bahagia. Pekerjaan itu hanya alat
untuk mencari rezeki. Sedikit dan banyaknya itu Tangan Yang Diatas yang berkuasa. Orang-orang yang disekitar kita jauh lebih penting, orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita jauh lebih butuh perhatian dan kasih sayang kita. Nah, tapi kenapa kita malah sering menghiraukan mereka coba? Kenapa kita lebih memilih yang lain coba. Kenapa kita mudah marah kepada keluarga dan orang yang kita cintai, dan sangat ramah kepada orang yang nggak kita kenal. Kenapa kita jarang menghargai orang-orang yang kita cintai, kenapa kita jarang mengucapkan berterima kasih kepada orang-orang di dekat kita dan bersyukur mereka selalu ada di dekat kita?”

Aku terbisu. Semua tamparan-tamparan telak tadi kuterima dengan pasrah. Perkataan Pak Rohmat berikutnya sudah nggak masuk lagi kekepalaku yang langsung pusing terhuyung-huyung. Akhirnya percakapan dengan Pak Rohmat kusudahi setelah melihat jam tanganku yang sudah menunjuk angka 8, nggak sopan bertamu sampai malam-malam kepada orang tua, selain itu juga aku sudah banyak mendapat jawaban yang membuatku pusing sekarang, cukup sudah aku nggak mau mendapat tamparan
lagi malam ini. Aku janji besok akan sowan lagi ke rumah beliau, ya besok ketika tamparan tadi sudah masuk ke seluruh tubuhku. Setelah pamit dengan Bapak dan Ibu Rohmat, kulangkahkan kedua kakiku menuju rumah orang tuaku sambil menengadah ke langit yang cerah. Kulihat bintang jatuh di ufuk selatan. Ya, besok.

22

July 6th, 2008

22. Angka kembar. 1 angka lebih banyak daripada yang kemarin. Ya, angka itulah yang akan aku tulis di formulir-formulir 1 tahun ke depan pada bagian usia. Ya, Allah, aku sangat bersyukur telah di beri umur dan kesempatan selama ini. Semoga masih panjang hal-hal yang dapat aku raih dan bermanfaat bagi semuanya.

Saatnya untuk review, refleksi, introspeksi dan tentu saja planning ke depan. Sebelumnya aku baca dulu tulisan-tulisan yang aku khususon tulis 2 tahun dan 1 tahun yang lalu. Fiuh!!! Luar biasa!!

Pernah merasakan yang namanya sesal??? Pernahkah meng-goblogkan diri sendiri apa yang telah di perbuat kemarin?? Pernah menertawai diri sendiri atas kekanak-kanakannya dirimu dulu??? Pernahkah salah omong di masa yang lalu atau mengapa dulu nggak ngomong seperti ini???

Yupe, perasaan di atas selalu terjerembab di benakku dan terngiang di telingaku saat memutar waktu mengingat masa lalu. Kenapa dulu aku berbuat itu, kenapa nggak melakukan ini, kenapa nggak ngomong ini. Mungkin ini yang dikatakan orang “university of life”, kita hidup untuk belajar, belajar dari masa lalu untuk masa depan, alias “nggak ada noda ya nggak belajar”.

Ya, kalau secara umum, tahun ini adalah tahun luar biasa bagiku. Bagaikan grafik yang dari dulu mengikuti pola, mengikuti persamaan, tiba-tiba titik di sumbu x pada y tahun ini begitu outlier. Luar biasa. Siapa yang nyangka satu tahun ini saya jadi begini. Begitu banyak hal baru, pengalaman, ilmu, semuanya begitu banyak yang aku raih. Kamu pantas senang dan bahagia koq, hidup ini begitu indah, manis dan tentu saja perlu dinikmati. Selama ini dalam umurku, tahun ini boleh di bilang tahun terbaikku dan luar biasa. Benar2 drastis perubahan yang telah aku lakukan. Beberapa impian-impian tiba-tiba menjadi kenyataan. Begitu banyak sekali perubahan yang terjadi. Fantastis. Nggak ada lagi STD. Istimewa. Pertanyaan tahun lalu yang sempat terucap, apakah aku puas setahun ini. Ya, aku cukup puas, bahkan sangat puas.

Konsekuensi dan pengorbanan memang ada. Ada beberapa hal juga yang nggak aku dapat, mengorbankan konsistensi dan komitmen, reduksi di beberapa bagian. Ya itulah hukum keseimbangan, harus imbang antara yin dan yang. Pengorbanan memang harus. Tapi emang ada dua hal sangat penting yang, why…, dalam setahun ini belum bisa aku jaga dengan baik. Dan ini harus aku ikat erat-erat untuk tahun depan, bahkan sampai mati harus di pertahankan.

Dan hal yang terindah dan termanis adalah kamu sayang, dan tentu saja lebih super-nya diriku. I’m stronger than u, superman!!! Sering berpikir diri sendiri, mengapa aku disini sekarang. Harusnya aku disana, tetap mengikuti trend garis dari persamaan hidupku sebelumnya. Bener-bener anugerah terbesar ini semunya. Kerja keras, jerih payah, keringat memang terbayarkan lunas. Sekarang harusnya saat untuk menghibur diri. Pantaslah untuk berileks sejenak. Masih muda uy saya, 22 tahun, ingat, belum cukup dewasa sepenuhnya kamu, nikmatin dululah. Anak bau kencur, ya nggak usah sok-sokan dulu lah, nikmati dulu, ini pesan dari sedikit sisi bagianku kepada ilham. Sedangkan untuk
ilham berikutnya yang membaca tulisan ini nanti, ingat jaga anugerah ini semuanya, selalu besikap syukur itu wajib hukumnya, sombong di buang jauh. Kerja keras memang perlu lagi di tambah ke depannya, penyakit malas dan inkonsistensi jangan dibuang jauh, tapi disingkirkan, dikurangi dikit-dikit, ya memang malas dan inkonsistensi adalah hiburan bagi kamu.. Rekoso sik ben suk iso urip mulyo.

So, apa yang terjadi setahun ke depan??? Aku nggak mampu membayangkan, mengingat setahun kemarin yang telah aku raih. Dan sebenarnya masih sangat banyak yang ingin aku tulis. Pengen curhat di blog ini, namun, ah…Lagi-lagi aku tutup saja dengan pertanyaan yang sama seperti setahun yang lalu:

Apa yang aku ketahui?

Apa yang dapat aku harapkan?

Apa yang harus aku lakukan?

3

June 26th, 2008

Story 1

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

“Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia…”

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab haltersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.

“Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri.

Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman… Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir…

“Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya.

“Oh tidak, lanjutkan…” jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia.

“Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”.

Dengan suara perlahan suaminya berkata “Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…”

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia menunduk dan menangis…

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.

Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita? Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.

———————————————————————————————–

Story 2

TERTULIS DALAM BUKU
HARIAN SANG ISTERI

Minggu Malam - Dia bertingkah aneh. Sebelumnya kami berjanji bertemu di Cafe. Aku shopping seharian dg teman-teman, sehingga mungkin dia kesal karena aku agak telat sampai di Cafe, tapi dia tak berkomentar.

Ngobrolnya nggak nyambung, jadi aku usul kita pergi ketempat yang agak sepi supaya ngobrolnya lebih enak, dia setuju tapi tetap diam dan berjarak. Aku tanyakan apa yang salah - dia jawab,

“Tak ada”.

Aku tanyakan apakah kesalahan ku yang membuatnya kesal. Dia bilang hal ini tak ada kaitannya dengan ku dan minta aku nggak usah khawatir.

Dalam perjalanan pulang, ku bilang aku mencintainya, dia cuma tersenyum tipis dan tetap menyetir. Aku tak bisa menjelaskan perangainya sore itu. Aku tak habis pikir kenapa dia tak menjawab, “aku cinta kamu juga”. Sesampainya dirumah, aku merasa kehilangan dia, dan seolah-olah dia tak menghendaki ku lagi. Dia hanya duduk dan nonton depan TV; dia terlihat jauh dan menghilang…..

Akhirnya aku putuskan untuk tidur. Sekitar 10 menit kemudian, dia menyusul ke kamar. Aku nggak tahan lagi, kuputuskan untuk menghadapinya dan menanyakan soal sebenarnya, tapi dia langsung tertidur. Aku mulai menangis sampai tertidur. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Hidupku serasa kiamat…

TERTULIS DALAM BUKU
HARIAN SUAMI

Hari ini Manchester United kalah. SIALAAANN!!!

———————————————————————————————–

Story 3

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-2 saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.

Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan perceraian. ‘Mengapa?’ dia bertanya dengan terkejut. ‘Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini’ jawab saya. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya,’ Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?’

Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit dan itu benar, saya pikir saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya. Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan’ Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya. Seandainya katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?’

ia berkata, ‘Saya akan memberikan jawabannya besok’. Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan?

‘Sayang, Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk men-jelaskan alasannya’. Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.

‘Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, lalu saya harus memberikan jari-2 saya untuk memperbaiki programnya’.

‘Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus mem-berikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu’. ‘Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-2 baru yang kamu kunjungi, saya harus memberikan mata saya untuk mengarahkanmu’.

‘Kamu selalu pegal-2 pada waktu tamu kamu’ datang setiap bulannya, saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal’.

‘Kamu senang diam didalam rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi ‘aneh’. Lalu saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon-2 dan cerita-2 untuk menyembuhkan kebosananmu’.

‘Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong meng-guntingkan kukumu dan
mencabuti ubanmu. Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu’
‘Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Tapi saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati’ Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali’

Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana dengan susu segar
dan roti kesukaanmu’

Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang dulu sangat aku cintai, dia begitu penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Aku tidak kuat lagi dan langsung memeluknya dan rebah dibahunya yang bidang sambil menangis, Oh, Tuhan, saya percaya, tidak ada orang yang pernah mencintaiku seperti yang dia lakukan dan saya harus melupakan ‘bunga’ itu sendiri.
I

tulah hidup, atau boleh dikatakan, CINTA, ketika seseorang dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita mengabaikan cinta sejati yang berada diantara kedamaian dan kesepian. Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tidak punya bentuk. Bisa juga dalam bentuk yang tidak ingin kita ketahui. Bunga, saat-saat yang romantis hanyalah bentuk awal dari hubungan. Diatas semua ini, pilar cinta sejati harus tegak berdiri dan itulah kehidupan kita.

———————————————————————————————–
Ketiga cerita di atas, aku copas saat surfing tengah malam, seingatku aku ambil dari dokter keluarga dan forum terbesar Indonesia. 3 cerita yang menarik perhatianku pada 3 malam itu. 3 Cerita yang menginspirasiku dalam 3 malam itu. 3 cerita dengan sudut pandang dan masalah yang berbeda.
Kenapah? Mbuh ah!!!

Suatu Malam

June 7th, 2008

Satu_bintangKuteguk habis kopi yang sudah dingin dari mug Simpsons yang selalu menemaniku itu. Kuluruskan tanganku, dan me”ngolet”kan tubuhku, melancarkan peredaran darah di seluruh tubuh yang kata orang semakin kurus aja. Kukucek kedua mataku yang sudah berair karena lama menatap monitor komputer. Jam di sebelah pojok kanan bawah monitor memunculkan angka 01.17. Badanku minta untuk bergerak, perut minta diisi, mata minta ngeliat pada obyek yang jauh.

Akhirnya aku bangkit dan mencari jaket yang menumpuk di kamar, mencari kunci motor, dengan jalan yang agak terhuyung-huyung berniat keluar untuk nyari makan. Ke kamar mandi dulu, kencing dan membasuhkan sedikit air dingin ke muka dan rambut, biar seger. Di kamar mandi itu aku berkaca. Beuh, koq keliatan makin tua aja, perlu potong rambut sepertinya ini.

Aku keluar. Dingin pisan malem ini. Udara malam sepertinya nggak cocok untuk paru-paruku ini, minta untuk dibatuk dan dimuntahkan isinya. Sepanjang perjalanan naik motor, sepertinya pikiranku melayang. Nggak fokus, kemana-mana. Akhirnya cuman pedagang kaki lima nasi goreng yang akhirnya aku temukan yang masih buka selarut ini, setelah mencari-cari di sekitar kompleks kali aja ada makanan yang lebih bergizi.

Aku mesen nasi goreng 1,5 porsi dengan 2 telur mata sapi setengah matang. Aku ngobrol dengan bapak tua penjual nasi goreng yang juga sudah ngantuk dengan matanya yang berat memandangiku. Sambil meracik bumbu, aku iseng bertanya-tanya pada Bapak tersebut tentang daerah sini, tempat aku ngontrak yang belum genap satu tahun. Bapak itu ternyata sudah 14 tahun jualan di sini.

“Ya, dik, pas sejak saya jualan di sini, itu masih sawah semua. Dulu di jalan ini cuman kecil, sekarang sudah di perbesar. Sepi betul jalan ini dulu”.

Aku hanya manggut-manggut saja. Bapak itu juga cerita, sedikit sejarah tempat ini, kompleks perumahan di mana aku ngontrak, yang dulu serem, sering terjadi kehilangan, sasaran para maling
karena masih sangat sepi. Ya, dan sekarang bapak penjual nasi goreng tersebut masih bertahan di tempat ini. 14 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kustop pikiranku sampai sini, sudah nggak kuat lagi. Rasanya pengen melayang badan ini. Pikiranku kosong selama beberapa menit. Kuliriklangit. Bulan 3/4 dengan di temani hanya satu bintang.

Aku tersadarkan ketika bapaknya mematikan kompor. Langsung aku merogoh saku mengeluarkan hapeku, melihat jam. Ku hela nafasku. Kupersiapkan uang sepuluh ribuan, dan aku pun pulang dengan pikiran penuh kekosongan. Sampe di rumah, langsung kumakan habis nasi goreng 1,5 porsi tersebut sambil nonton teve yang lagi menayangkan berita tengah malam, di selingi batuk-batuk-efek kena udara dingin.

Tapi…

Kutonton teve dengan pandangan kosong, telinga sama sekali nggak kemasukan bunyi apapun. Kutelan nasi, tapi… lidahku mati rasa nggak merasakan apa-apa. Kosong. Sudah sholat Isya’ belum yah? Tapi aku nggak mampu mengingatnya lagi, kenangan 5 jam lalu. Pengen sholat malam ah… Tapi…. Sambil masih memegang sendok, tiba-tiba gelap. Gelap. Hitam. Sepi. Dan kosong.

    pesan singkat
    panganpuranipun, lagi menyesuaikan dengan transformasi ke WP, jadi kaco semua tulisan, semoga bisa berbenah sehingga enak dibaca
    Kutipan
    Sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak semua bangsa. (Pembukaan UUD 1945)
    Blogroll
    Tags